Minggu, 14 November 2010

Sebuah Tjerita Dari Sisi Sungai..




INSPIRASI SETJANGKIR KOPI

[tjinta sang pendjadja kopi] 

     Bukan moelyana apabila sore itu tidak datang dengan senyum, senyum dari gigi yang menguning terpampang di wajah kurusnya, dengan langkah tegap penuh keyakinan, seolah sepoy angin yang menerpa wajahnya saat ia melangkah menambah rasa percaya diri yang tinggi, bagai berusaha memancing, mencuri perhatian pada tiap pasang mata yang ada di sekelilingnya waktu itu.
     Ya, kami memang acap duduk menghabiskan waktu disana, disebuah warung kopi di samping bantaran sungai dekat kampus kami, tempat itu awal dari sebuah cita dan mula membaharu. Tempat yang biasa saja, dengan orang - orang yang biasa saja, dan jajanan yang sangat biasa. Tidak ada hal yang luar biasa disana, jauh dari glamornya strabucks, atau mewahnya KFC, ditempat itu hanya ada sekumpulan pemuda dari keturunan keluarga dengan tingkat ekonomi menengah kebawah, bukan sebuah tempat yang spesial memang. Ironis, walau serba biasa, tapi kami betah menghabiskan waktu ditempat itu, bahkan sampai larut.
     Sebut saja sutiyem biasa kami panggil tiyem, seorang wanita yang terpaksa hidup dan bekerja di sebuah warung kopi, ia telah berkecamuk dengan kopi dan mie instant selama lebih dari 10 tahun, tiyem menjadi panyelamat perut yang lapar dan pembebas dahaga bagi siapa saja, tak terkecuali moelyana, ia rutin memesan kopi dan rokok dari tiyem. Saking seringnya, tiyem mengenal betul bagaimana seharusnya membuat secangkir kopi bagi moelyana, aaaiiihhh... rupanya tiyem sudah sangat akrab dengan perut dan lidah moelyana.
     Tidak hanya moelyana yang rutin datang ke warung kopi milik tiyem, sebut saja ginanjar, lelaki bertampang maskulin yang sering disebut - sebut berpenampilan mirip dengan seorang vokalis band besar yang saat ini sedang bersemayam di salah satu rutan swasta [ada gitu rutan swasta] di kota bandung, ia terjerat undang - undan ITE yang berkaitan dengan pornografi, hal ini terjadi karena ulah beliau yang merekam adegan mesra dengan pacarnya, adegan yang sangat mesra yang seharusnya hanya dilakukan oleh sepasang suami - istri. Ginanjar acap bergabung menghabiskan waktu bersama kami, ia termasuk salah satu pelanggan setia tiyem. 
     Singkat cerita disuatu sore tiyem dibuat sibuk oleh pesanan makanan dan minuman dari para pelangganya, termasuk moelyana dan ginanjar, kedua orang pesakitan ini mengantri mengharap pesanan yang mereka pesan sebelumnya cepat di buat, ahirnya tanpa sadar moelyana pun tersulut emosi saat tiyem mengedahulukan pesanan ginanjar, moelyana sadar betul kalau ternyata ia cemburu saat tiyem lebih mengedahulukan orang lain dari pada dirinya. Dan saat itu moelyana sadar bahwa ia tidak ingin kehilangan perhatian tiyem, dan sadar hanya tiyemlah yang dapat membuat kopi yang hanya di buat dengan penuh ketulusan, dan moelyana sadar betul bahwa tiyem telah mencuri hati moelyana lewat gemolek kopi yang tiyem buat. Saat sadar akan perasaan hangat yang tumbuh melalui inspirasi secangkir kopi hangat, yang setia menghangatkan hati moelyana, ia menyadari bahwa ia tidak bisa hidup tanpa kopi yang tiyem buat.

Bersambung ke edisi berikutnya, yang belum d ketahui kapan bisa dibuat kembali>>>>

By : Xyafriady













LinkWithin