Belakangan ini saya banyak melihat do’a-do’a berseliweran di situs jejaring sosial gratis(konteks di sini adalah facebook). Sudah seperti menu wajib yang harus saya jumpai tiap hari. Disinilah mungkin titik dimana kepercayaan bertemu materi dan tuhan bertemu teknologi. Seperti sebuah rel yang berjalan berdampingan dan pada akhirnya bertemu dalam satu titik. Bukan satu hal yang salah atau sesat memang,namun saya hanya ingin berbagi sedikit kegelisahan dari fenomena-fenomena seperti ini. Kerna kita selalu mempunyai kesempatan untuk mensiasati dan bernegosiasi untuk tidak begitu saja mengamini.Sehingga tidak menghilangkan kesadaran kita sebagai manusia.Kita harus tetap terbangun dari dunia yang telah lama ‘meninabobokan’ kita. Perjumpaan saya dengan budaya populer seperti handphone,tivi,game,google,cafe,dan terutama facebook(yang sejarahnya begitu banyak dikuasai melebihi pengetahuan tentang hari lahir RA Kartini) adalah luapan pengalaman yang dimaknai dan ditafsirkan dalam benak posisi serta kepentingannya.Jujur saja,
"Kira-kira kenapa yah?”,seorang
teman bertanya. Menurut saya ada tiga kemungkinan orang-orang berdo’a
dalam statusnya. Pertama : Mereka hanya meluapkan apa yang ada dalam
benaknya,kedua : mereka ingin do’anya tak hanya di dengar oleh tuhan
tapi mungkin oleh teman-teman yang ada dalam friendlistnya agar terlihat
sebagai hamba yang shaleh,yang ketiga : mungkin mereka berpikir tuhan
adalah pengangguran yang tak punya kesibukan sehingga bisa tiap saat
melihat update-an terbaru hambanya atau paling tidak tuhan melihat
status mereka dan meninggalkan jempolnya “God like this” .”Ha..ha..ha”,seorang teman terbahak.Bergulat dengan dahak..”ya udah berpikir positif aja,orang berdo’a kok dilarang”.Suara seorang teman disebrang menyerang.”Lho kurang positif apalagi coba?”.Disini
yang saya lihat hanya ketelanjangan. Tidak ada ketulusan.Orang-orang
lebih percaya kalau do’anya akan lebih didengar apabila mereka update
menjadi status,daripada melakukan komunikasi tresendental sebagaimana
mestinya. Kiranya sekarang ini sajadah telah tergantikan facebook. Esensi berpikir Rene Descartes pun menjadi usang;”Cagito Ergo Sum” (Aku berpikir,maka aku ada),disini yang ada hanya “Updato statuso Ergo Sum” (Aku update status,maka aku ada). ”Nah,maka dari itu ijinkan saya untuk berbagi sedikit pengalaman”.
Malam kala itu saya melihat nenek saya sedang berdoa didalam
kamar.Sendiri.Sunyi.Tak seorang pun mengetahui apa yang ada dalam
benaknya. Hanya ia dan tuhan yang tahu.Yang terlihat hanya bibir kriput
warna tua bergumam. Saya melihat ada satu kesungguhan dalam setiap
panjatan. Dan di satu waktu,dulu. Saya dan seorang teman sedang duduk di
pelataran MCD. Saya melihat dia mengeluarkan laptopnya dan mulai
disibukan. Saya tak tahu apa yang dia lakukan. Tak lama,status baru pun
muncul. Ternyata dia sedang berdo’a.”Hamba sangatlah hina dihadapanMU ya rabb,,izinkan hamba untuk bersujud lebih lama lagi”. Saya pun tersenyum. Kini do’anya tak hanya lagi di dengar oleh tuhan,namun oleh semua teman dalam friendlistnya.
“Gmna sih,di bilang menyalahkan ga mau,di bilang membolehkan juga ga mau,jadi maunya apa?”.Masih suara seorang teman disebrang yang kembali menyerang.Garang.”begini lho”.
Saya itu hanya iseng berpikir saja. Walau terkadang gagal tapi apa
salahnya untuk tetap berusaha sadar dari berbagai geliat yang menyerang
dunia sekitar kita. Saya hanya tidak ingin menjadi individu pingsan yang
terseret arus dan tak tahu akan dibawa kemana. Saya sama sekali tidak
menyalahkan gaya berdo’a baru seperti itu. Kerna saya tidak mempunyai
kapabilitas untuk menjastifikasi bahwa itu adalah satu hal yang benar
atau salah. Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i,”pendapat
saya benar tapi mungkin salah,pendapat lawan bicara saya salah tapi
mungkin benar,kerna kebenaran itu adalah satu proses yang memang harus
tetap tertunda”. Seorang teman bungkam.Angin membawa aroma kuburan.”Maka terberkatilah mereka yang hanyut,semoga tuhan bersama mereka”
‘Senja Merah’
Ruang pengap,16/11/2010

