MAAF HANYA BISA KIRIM PUISI
Sayang,Telah aku kirim sebuah puisi. Kutulis malam tadi. Ketika semburat hitam menjelaga di barat sana. Saat dingin dan malam bersekutu dengan gerimis pada malam-malam yang semakin menghitam. Saat warna-warna pucat melekuk di kelopak mata dan di dalam hati yang kini menjelma sepi. Tak lagi gaduh. Tak lagi riuh. Dan baru dini hari tadi. Aku masukan puisi warna senja itu ke dalam kotak kaca yang dulu pernah kita bangun bersama. Dimana sebelumnya kita menghabiskan sisa-sisa malam dengan secangkir kopi yang membuat jantungku bergeletar. Tak henti berdenyar. Tak bubar-bubar.
Sayang,
Kau tahu mengapa aku lebih memilih untuk menulis puisi daripada memberimu cincin, kalung dengan hiasan hati ditengahnya atau segala benda yang dapat membuatmu bahagia? bukan masalah harga tentu saja. Tapi aku ingin membuat ingatan kita tak begitu saja menjadi kepingan-kepingan yang sulit untuk kita temukan di kemudian zaman. Biar tak terkoyak. Tak terhempas. Tak melesak. Seperti apa yang pernah aku bilang. Ingatan itu tak kejam. Tak perlu di bungkus dan di simpan di sudut gelap. Senyap. Biarkan saja ingatan kita tetap tersimpul rapi. Di situ saja. Ya, disitu saja.
Sayang,
Kita hidup di jaman edan. sebuah titik dimana cinta itu tak lagi ada. Tak menjelma nyata. Satu waktu dulu penyair dihilangkan karena puisinya. Dan buruh di perkosa karena menuntut upah layaknya. Dan sekarang kita di bayangi iman yang menjadi alasan legalnya pembunuhan. Darah dan amarah menjadi amanah. Tapi entahlah, mungkin kita memang hanya makhluk-makhluk peragu. Yang jarang benar-benar meyakini sebuah kebenaran. Termasuk Tuhan.
Sayang,
Kita sudah sepakat bukan ? bahwa hidup tak sesederhana seperti yang selalu kita tonton dalam kotak isi tai bernama Televisi. Dimana si A dan B menikah. Beranak pinak. Lalu akhir yang bahagia. Musik-musik ceria membahana. Hidup sebenarnya tak seperti itu. Tak semerdeka itu. Disana sini ada politik, sayang. Dimana satu dengan lainnya sibuk untuk berebut jatah kursi. Perang pun menjadi alasan untuk mendeskripsikan kebenaran. Bagaimana tidak ? bahkan ketika ada seseorang yang membunuh ratusan orang dengan satu ledakan pun mereka dapat disebut pahlawan. Dunia macam apa yang kita tempati ini?
Sayang,
Jagalah dirimu baik-baik. Berhentilah bertanya 'apakah Tuhan itu ada?'. Anggap saja ia benar-benar ada. Dengan begitu kita masih mempunyai alasan dan harapan untuk tidak begitu saja menutup mata. Karena hanya dengan begitu maka kita akan terus mempunyai kekuatan untuk hidup di dunia yang semakin hari semakin gila. Ya, hanya dengan begitu kita akan mempunyai kekuatan. Yaitu keyakinan.
Sayang,
Dini hari tadi aku simpan puisi dalam kotak kaca yang pernah kita bangun bersama. Dan aku harap puisi itu benar-benar sampai di tanganmu. Meski sepertinya aku harus berdoa keras untuk hal itu. Bukan apa-apa, hanya saja semoga kau masih mengingat kotak kaca yang pernah kita bangun bersama. Dulu. Ya, dulu. Ketika mentari berpulang untuk mencumbu sang bumi. Memadamkan senja. Disana. Ya, di barat sana.
Sayang,
Saat ini tak ada satupun yang dapat merubah apapun. Dan tak ada sesuatupun yang aku minta darimu kecuali satu. Aku hanya ingin kau tahu. Bahwa satu-satunya kebenaran yang kuimani dan tak pernah berubah dari dulu hingga kapanpun. Adalah mencintaimu. Ya, mencintaimu.
Kau tahu mengapa aku lebih memilih untuk menulis puisi daripada memberimu cincin, kalung dengan hiasan hati ditengahnya atau segala benda yang dapat membuatmu bahagia? bukan masalah harga tentu saja. Tapi aku ingin membuat ingatan kita tak begitu saja menjadi kepingan-kepingan yang sulit untuk kita temukan di kemudian zaman. Biar tak terkoyak. Tak terhempas. Tak melesak. Seperti apa yang pernah aku bilang. Ingatan itu tak kejam. Tak perlu di bungkus dan di simpan di sudut gelap. Senyap. Biarkan saja ingatan kita tetap tersimpul rapi. Di situ saja. Ya, disitu saja.
Sayang,
Kita hidup di jaman edan. sebuah titik dimana cinta itu tak lagi ada. Tak menjelma nyata. Satu waktu dulu penyair dihilangkan karena puisinya. Dan buruh di perkosa karena menuntut upah layaknya. Dan sekarang kita di bayangi iman yang menjadi alasan legalnya pembunuhan. Darah dan amarah menjadi amanah. Tapi entahlah, mungkin kita memang hanya makhluk-makhluk peragu. Yang jarang benar-benar meyakini sebuah kebenaran. Termasuk Tuhan.
Sayang,
Kita sudah sepakat bukan ? bahwa hidup tak sesederhana seperti yang selalu kita tonton dalam kotak isi tai bernama Televisi. Dimana si A dan B menikah. Beranak pinak. Lalu akhir yang bahagia. Musik-musik ceria membahana. Hidup sebenarnya tak seperti itu. Tak semerdeka itu. Disana sini ada politik, sayang. Dimana satu dengan lainnya sibuk untuk berebut jatah kursi. Perang pun menjadi alasan untuk mendeskripsikan kebenaran. Bagaimana tidak ? bahkan ketika ada seseorang yang membunuh ratusan orang dengan satu ledakan pun mereka dapat disebut pahlawan. Dunia macam apa yang kita tempati ini?
Sayang,
Jagalah dirimu baik-baik. Berhentilah bertanya 'apakah Tuhan itu ada?'. Anggap saja ia benar-benar ada. Dengan begitu kita masih mempunyai alasan dan harapan untuk tidak begitu saja menutup mata. Karena hanya dengan begitu maka kita akan terus mempunyai kekuatan untuk hidup di dunia yang semakin hari semakin gila. Ya, hanya dengan begitu kita akan mempunyai kekuatan. Yaitu keyakinan.
Sayang,
Dini hari tadi aku simpan puisi dalam kotak kaca yang pernah kita bangun bersama. Dan aku harap puisi itu benar-benar sampai di tanganmu. Meski sepertinya aku harus berdoa keras untuk hal itu. Bukan apa-apa, hanya saja semoga kau masih mengingat kotak kaca yang pernah kita bangun bersama. Dulu. Ya, dulu. Ketika mentari berpulang untuk mencumbu sang bumi. Memadamkan senja. Disana. Ya, di barat sana.
Sayang,
Saat ini tak ada satupun yang dapat merubah apapun. Dan tak ada sesuatupun yang aku minta darimu kecuali satu. Aku hanya ingin kau tahu. Bahwa satu-satunya kebenaran yang kuimani dan tak pernah berubah dari dulu hingga kapanpun. Adalah mencintaimu. Ya, mencintaimu.
Ruang pengap, 19/03/2011
MENGHILANG
'Aku pergi. Jangan cari'. Sepotong kalimat. Dari ranjang yang semalam lumat. Gerimis menari. Meski pagi. Jendela lempar cahaya. 'Google selalu setia membantumu untuk mencari tahu tentang sesuatu..'. Bunyi poster di stasiun kereta. 'Iya'. Kubuka laptop. Mozilla Firefox. 'http://www.google.com/'. Ku ketik namanya. Lalu, Your serch - bla bla bla - did not match any documents. Dia hilang. Atau pulang?
Ruang pengap,13/01/2011
MENCURI PASIR LAUT
Mereka diciptakan Tuhan untuk keselarasan alam semesta
Dicuri satu atau dua karung
memang seolah tak masalah
Namun apabila di tiap-tiap kita mempunyai karung-karung itu
maka Tuhan pun membangun penjara
yang bernama bencana
Ruang pengap, 11/02/2011
DO'A DI PAGI
Disuatu pagi. Do'a anak lelaki. 'Tuhan sumpah mati aku tidak suka
St12, maka tolong jangan biarkan aku untuk jatuh cinta. sekaliiiii
iniii saja. Aku lelah. Beneraaaan !'. Dan disinggasananya. Tuhan mengulum senyum. 'Tuhan, aku ini seriuuuus lho'. Lelaki itu menegaskan. 'Lho..lha apa kamu pikir aku ini becanda? kamu mau kurang ajar lagi ama gusti-mu?'. 'Bukan begituuuu Tuhan, aku ini cumaaaa...'. 'Yo wis to..kamu diem aja, aku ini Tuhan. Jadi lebih tau dari kamu..cah gemblung'. Seketika bibir anak itu terkunci. Dan jemari Tuhan tak henti-hentinya menari.
Pagi kirim sepi.
*QS 2:216
Ruang pengap,28/02/2011


